Kini begitu banyak fasilitas-fasilitas yang kita dapati karena berkembangnya zaman. Dari mudahnya melakukan berbagai kegiatan denga...

The-nitip-things




Kini begitu banyak fasilitas-fasilitas yang kita dapati karena berkembangnya zaman. Dari mudahnya melakukan berbagai kegiatan dengan mobilitas tinggi melalui ponsel genggam. Hingga kenyamanan ruangan dengan berbekal berbagai fasilitas seperti AC atau wi-fi gratis. Semua itu memberi berebagai dampak, salah satunya yaitu tingkat ke-mager-an yang amat sangat tinggi.

Kenyamanan tersebut sedang gue rasakan hingga saat ini di kala mengunjungi sekret. Walaupun hanya berbekal kipas yang terus berputar pun itu tak masalah. Wi-fi yang kencang terkadang juga bisa jadi pengundang. Mainan-mainan ajaib yang sering muncul di sekret seperti catur atau bahkan karambol juga turut sebagai pengundang. Seandainya disana ada karpet, bantal dan dispenser, gue pasti bakalan nginep disana. Gak perlu punya kosan dah.

Dengan fasilitas seadanya seperti itu aja udah ngebuat nyaman gue. Begitu juga dengan teman-teman lainnya. Karna merasakan hal yang sama dan memanfaatkan hal yang sama (red: Wi-fi gratis), menyebabkan pembludakan umat-umat yang dating, hingga memenuhi sekret. Terkadang hingga memenuhi SC (Student Center) karna terlalu ramai.

Karna semua hal itu membuat gue jadi males banget beranjak dari tempat gue bersandar dan juga dari hadapan sang laptop tercinta. Saat lapar gue sampai berani nahan. Saat haus gue sampai berani nahan. Saat udah gak ketahan, gue minta makanan dan minuman orang. Terkadang di sekret juga sering tepasang danusan. Danusan adalah hal terkejam. Mengapa demikian? Karna gue yang tak mau beranjak lebih jauh harus lebih memilih menikmati danusan yang lebih mudah dijangkau. Alhasil kantong gue terkuras habis karna danusan danusan yang nikmat sadis itu.

Nah, ada solusi dari candu danusan. Di suatu saat, pasti ada saja temen lu yang bakal pergi nyari makanan keluar. Hal inilah yang gue manfaatkan. Nitip. Saat itu mereka masih terima gue titipin karena biar sekalian jalan gitu. Kemudian di hari-hari berikutnya gue merasakan sensasi nikmatnya nitip. Lu bisa merasakan makanan plus nasi men, plus nasi. Semua itu tanpa lu harus bergerak. Lu juga kadang bisa dapet minuman berasa men, berasa, tapi gak plus nasi. Gue baru sadar ini nikmatnya nitip.

Hari selanjutnya pun begitu, siapapun yang mau keluar, pasti jadi bahan titipan gue. Kemudian berkembang hingga siapa yang mau ke kampus itu bakal gue jadi bahan titipan. Kan sekalian gitu dari kosan atau kontrakan masing-masing trus bawain makanan ke kampus. Gue bayar loh, gue bayar. Seharusnya itu gak jadi masalah kan. Yak an ya?

Oke itu jadi masalah. Semacam jadi latah, setiap gue tau ada temen gue yang mau keluar atau menuju ke kampus pasti jadi bahan titipan gue. Entah itu makanan plus nasi, makanan aja, gorengan, minuman berasa atau apapun itulah. Mereka lama-lama jadi kesel juga karna sering gue titipin. Juga karna entah kenapa gue jarang banget jadi bahan titipan. Padahal gue siap juga kalo dititipin kok. Karna seringnya gue nitip itu, temen gue mulai sadar saat gue mau memunculkan keinginan untuk menitip. Mulai dari basa-basi ngerasa laper, hingga basa-basi nanyain lagi dimana atau mau ke kampus atau enggak. Biasanya mereka kabur atau gak bales pesan gue atau bahkan udah bales duluan kalo mereka gak mau dititipin. Sadis.

Terkadang gue sadar, kasian juga mereka dititipin begitu ya. Tapi gue paling nitip seadanya aja. Masalahnya adalah saat gue nitip, temen-temen gue yg lain pun jadi ikutan nitip. Semacam sindrom latah nitip. Kan jadi bikin susah yangdititipin harus beli banyak. Yaudah lah sudah terlanjur, haha.

Gue sangat menghargai mereka yang sudah gue titipi. Mereka sungguh berhati besar. Mereka sungguh baik hati. Mereka orang yang punya usaha untuk beranjak dari kenikmatan sejenak. Mereka orang yang super strong abis. Terima kasih untuk kalian yang sudah mau gue titipin yak. Maafkan ketidakberdayaan gue ini untuk membeli barang tersebut secara langsung. Sekali lagi terimakasih.

                                                                                                                        Tertanda,



Hafizh sang penitip sejati
                                                                                                                         

Masih inget gak lu waktu kecil dulu seberapa excitednya lu terhadap barang baru. Setiap ada barang baru yang lu liat atau yang lu punya, ...

Baru dan Terinjak



Masih inget gak lu waktu kecil dulu seberapa excitednya lu terhadap barang baru. Setiap ada barang baru yang lu liat atau yang lu punya, pasti seketika ada kilauan cahaya di mata kita. Hal-hal yang baru memang membuat excited untuk kita saat kecil dulu. Namun semakin bertambahnya umur kita, semakin berkembang rasa excited itu hingga menuju kebrutalan.

Semua itu beralawa saat gue masih duduk di bangku kelas tiga SD. Saat itu ortu gue ngebeliin sepatu buat gue. Sepatu tersebut gue pake saat ke sekolah. Dengan bangga gue melangkah menuju sekolah. Seakan bangga menggunakan sepatu baru, gue berjalan sembari membusungkan dada dan melebarkan senyuman. Gue merasa paling ganteng saat itu. Seketika suasana kebanggaan gue berubah dikala seorang teman berwajah licik menghampiri gue. Secara kilat dia mengangkat kakinya yang kemudian dilayangkan kearah kaki gue. Kaki gue diinjek. Entah bagaimana kelanjutannya sampe beberapa teman yang lain melakukan hal yang sama. Suasana berubah suram.

Pernah ortu gue ngebeliin sebuah pakaian baru. Gue pergi lagi ke sekolah untuk yang kesekian kalinya. Senyum gue masih gue hadirkan selama perjalanan. Gue gak perdulu dengan kejadian sebelumnya. Sampai suatu ketika temen gue dating lagi dengan wajah yang lebih licik. Secara kilat juga dia merebahkan badannya kearah gue. Cerita selanjutnya adalah beberapa teman lain melakukan hal yang sama. Nyenggol-nyenggol gue. Suasana makin suram.

Gue bingung ada apa dengan mereka. Penyakit apa yang mendera anak-anak masa kini. Gue sungguh sangat sedih. Kejadian yang paling sering adalah tindak penginjakan tersebut. Bagi siapapun yang memiliki sepatu baru pasti bakal jadi bahan. Sekalinya dia berhasil menghindar di awal masuk kelas, pulang sekolah tetap tidak akan selamat. Seberuntungnya orang tersebut, esok harinya pasti terkena tindak penginjakan ini.

Entah siapa yang jadi pionir ajang injak menginjak ini. Di wilayah manapun kalian tinggal, pasti ada aja dah yang begitu. Terutama dalam hal sepatu baru. Dari masing-masing temen, pasti ada tuh salah satu yang jadi pemicu buat yang lain ikutan tindakan penginjakan ini. Saat sang pemicu ini tidak sadar atau sedang tidak ada, jangan bersenang hati dahulu, masih ada tangan kanan si pemicu. Mereka adalah orang-orang dengan respon yang sama terhadap hal-hal baru yang melekat pada tubuh kita. Dasar sial.

Hingga SMA gue masih mengalami hal yang sama. Mata-mata yang memandang tajam itu. Pandangan fokus itu. Koordinasi data baru itu. Kesigapan itu. Semuanya menghantui perjalanan gue menuju kelas. Perjalanan gue menjadi horror sepanjang jalan. Gue jadi berasa diamati sepanjang jalan. Gue bagaikan mangsa yang siap diterjang ramai-ramai.

Kebrutalan tersebut ternyata masih gue temukan saat gue kuliah. Awalnya gue merasa tenang mengingat kehidupan kampus yang merupakan kehidupan menuju kedewasaan. Namun ternyata kelakuan temen-temen gue masih kayak bocah brutal saat SD dulu. Siapapun yang berani memakai sepatu baru, siapkan kaki lu untuk diinjak. Dan gue menjadi salah satu pionirnya, hahaha….

Secara pribadi sebenernya gue sebel dengan hal tersebut. Tapu mau gimana lagi, emang enak dilakukan. Enggak, enggak, gue emang gak pernah setuju dengan hal tersebut. Apa yang salah dengan yang baru coba. Sesuatu yang baru kalo gak dipake kan bakal tetep baru. Jadi gimana coba kalo gak dipake. Mungkin itu cuma buat seru-seruan doang. Tapi gimana kalo itu sampe tahap kebrutulan maksimal. Dimana setiap ada yang baru, tindak penginjakan akan dilakukan. Seperti ketika ada sepatu baru, kemudian diinjak. Ketika ada baju baru, kemudian diinjak. Ketika ada topi baru, kemudian diinjak. Yang kasian adalah ketika ada pasangan baru, serentak kita bakal menginjak kedua pasangan tersebut dan dengan bangga kita mengatakan, “cieee baru…”. Okeh cukup. Mari kita hentikan perilaku semena-mena ini. Pikirkan juga perasaan sang pemilik barang baru tersebut.

Mulai sekarang cobalah untuk menahan diri untuk terlalu excited hingga memiliki respon brutal terhadap barang baru. Biarkan lah yang baru tetap baru. Lambat laut, seiring terus terpakainya barang tersebut juga akan lusuh juga. Terakhir, jangan biarkan kita terus diinjak! Kita harus melawan! Maju terus barang baru!!! Maju terus Indonesia!!!!


Setahun yang lalu di bulan yang sama seperti ini, di malam yang sama seperti ini, di bawah sinar bulan yang juga sama seperti ini, gu...

Yang Kedua



Setahun yang lalu di bulan yang sama seperti ini, di malam yang sama seperti ini, di bawah sinar bulan yang juga sama seperti ini, gue bersama kawan-kawan gue melakukan hal spontan yang tidak terduga. Secara spontan kita merencanakan sebuah surprise kepada seseorang teman dari asrama putri. Entah siapa yang terlebih dahulu mencetuskannya, tapi kita dengan sigap menanggapinya, semacam challenge accepted gitu. Tahun ini, hal itu kembali kita lakukan.

Suatu hari disaat gue sedang bengong karna rasa gabut yang datang menghampiri, gue kepikiran cerita masa lalu (yaelah). Gue teringat kembali masa tahun pertama dimana gue masih di asrama. Masa dimana gue masi cupu dan maen seru-seruan bareng. Gue jadi keinget dulu pernah ngasih surprise ke seseorang dengan super spontan abis. Hari itu kita tau dia ulang tahun. Sore kita ngumpul. Malem langsung beraksi. Gue langsung mikir kenapa gak buat gitu lagi ya. Mungkin bakal lebih seru. Mungkin.

Sebagai seorang pionir, gue mencoba menghubungi teman-teman gue yang dulu bersama melakukan aksi ini. Kita udah jarang ketemu karna beda fakultas dan jurusan. Jadi hanya pesan singkat dan media sosial lah yang bisa mempertemukan kita. Merekapun menyanggupi ajakan gue untuk melakukan hal ini lagi. Oke kita siap.

Bedanya dengan taun lalu, kita udah ngomongin ini semenjak beberapa bulan sebelum tanggal pengeksekusian. Namun hanya obrolan kecil dan wacana doing, itu juga gak sering, karna kita udah sibuk masing-masing. Jadi kita udah menyamakan tanggal dia ultah dengan jadwal kita. Kita harus gak punya kegiatan yang terlalu menyita waktu biar bisa ngumpul. Waktu sudah pas, tinggal pengeksekusian saja.

Hari yang ditunggu pun tiba. Kita semua ngumpul setelah acara pertandingan olahraga yang sedang berlangsung di kampus. Seperti biasa, kita gak ada persiapan sama sekali. Yang kita lakukan cuma menentukan jadwal doang. Alhasil, sama seperti tahun lalu, kita mencari-cari barang apa yang bakala kita kasih ke dia. Seenggaknya gak seabsurd tahun lalu.

Malem itu kita masing-masing nyari barang apa yang bakal dikasih satu-satu nantinya. Gue ngubek-ngubek barang-barang kosan temen gue. Entah terpikir apa, tiba-tiba gue dapet ide buat ngasih dia sebuah pembalut. Eh, salah. Gak mungkin ditempat cowo ada benda kayak gitu, terlalu horror. Gue teringat kalo temen gue ini jadi medis di suatu acara, terpilihlah sebuah hansaplas untuk gue berikan nantinya. Gue milih hansaplas karna nantinya bisa berguna ketika secara tidak sengaja dia jatuh dan terluka, hansplas itu bisa berguna. Namun kalo hatinya yang terluka, orang yang ngasih hansplas bisa berguna kok (yaelah). Filosofis banget gak sih.

Entah kenapa secara absurd kawan-kawan gue mendapati barang dengan jenis yang hamper sama. Rata-rata sejenis obat-obatan, minuman energy dan yang lainnya. Merek a terlalu absurd dalama memilih barnag. Kita menunggu hari berganti di kosan temen gue yang ternyata bersebelahan dengan kosan dia yang bakal kita buat terkejut kembali. Kita gak menyiapkan apa-apa. Kita hanya bermain sembari menghabiskan waktu aja. Karna spontan itu lebih asik dan lebih mengejutkan (maneeee!!!!).

 Kita naek ke lantai 3. Lantai 3 merupakan tempat bagi para penghuni kosan menjemur pakainnya. Namun yang special disini yaitu tempat itu terhubung langsung dengan kosan dia yang bakal kita buat terkejut. Luar biasa. Tempat sudah mendukung. Suasana sudah mendukung. Kita sudah menghubungi teman sekamarnya untuk membawa dia naek keatas dan membuat dia terkejut.

Dia naek ke lantai 3. Kita sudah siap dengan gitar dan lagu persembahan. Dia hadir dan dengan segera kita menyanyikan lagu untuk merayakan hari ulang tahun dirinya. Sama seperti tahun lalu. Kita terlalu cacad dalam menyanyikannya dan gue gak perduli. Dia shock, bingung dan akward moment sedikit muncul. Orang gila macam apa yang tiba-tiba naek keatas lantai 3 dan membuat surprise seperti ini lagi. Selanjutnya kita ngasih barang spesial untuk dirinya. Semoga dia terkejut ketika membukanya nanti.

Malam itu bulan sedang bersinar dengan terang. Angin malam yang sejuk menghampiri. Cerita-cerita saat tahun pertama yang kian hadir. Entah mengapa malam itu gue jadi bahan ledekan, tapi gak masalah, yang penting kebahagiaan sedang menyelimuti kita. Malam itu yang gue harapkan semoga dia tetep terkejut dan akan terkejut hingga nantinya. Semoga ini berkesan dan jangan menyesal dapet gangguan dari kita. Yah, kata hanyalah sebuah kata. Selamat ulang tahun ya.

Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata monster? Mengerikankah ketika kalian membayangkannya. Apakah rasa takut kemudian datang m...

Monster Berkepala Dua

Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata monster? Mengerikankah ketika kalian membayangkannya. Apakah rasa takut kemudian datang menyelimuti. Atau malah perasaan yang biasa saja. Monster sering dianalogikan dengan suatu mahluk yang menyeramkan. Mahluk besar yang merusak. Mahluk dengan segala gambaran buruk disekitarnya. Namun siapakah yang tau bentuk asli monster itu seperti apa.

Kita terlalu sering mendapat masukan bahwa monster adalah sebuah mahluk yang buruk. Padahal kita tidak mengetahui bagaimana monster itu sebenarnya. Bisa saja monster hanya terlihat buruk dil luar, namun terdapat kebaikan di dalam. Monster hanyalah sebuah istilah yang menunjukkan mahluk asing dan besar. Istilah monster ini sebagai penunjuk dalam suatu hal yang seperti itu membuat sebagian orang berfikir buruk.

Monster hanyalah muncul dalam imajinasi-imajinasi liar tiap orangnya. Imajinasi-imajinasi liar itu biasanya tertuang dalam berbagai media, mulai dari yang tidak bergerak hingga yang bergerak. Banyak ragam dalam memvisualisasikan karateristik monster ini. Hingga terbentuk stereotip dari sang monster. Namun dalam kehidupan nyata, adakah monster itu?

Yah, monster memang hanya bagian dari khayalan manusia saja. Kali ini gue mengkaitkannya dalam kehidupannya nyata, namun bukan sebagai sesosok mahluk, melainkan sebuah keadaan seseorang. Setiap orang pasti tumbuh. Bertambah menjadi tua. Tidak ada yang bisa menghindari hal tersebut. Lambat laun mereka akan melepas masa kanak-kanaknya, masa remajanya hingga masa mudanya. Mereka akan memasuki kedalam kehidupan dewasa nantinya. Tepat ketika mereka memasuki usia 20 tahun, itulah dimana mereka mulai memasuki masa dewasa muda. Mereka berubah menjadi mahluk berkepala dua. Monster berkepala dua.

Monster berkepala dua ini seperti yang gue bilang sebelumnya adalah sesuatu yang menggambarkan hal yang asing dan besar. Jadi dalam tahap ini mereka akan menemukan sesatu hal yang asing dan besar. Bagaimana dalam usia tersebut mereka akan bertemu masalah-masalah yang lebih kompleks lagi. Bagaimana nantinya mereka menemukan solusi-solusi dari pengalaman yang didapat. Bagaimana nantinya mereka masuk dalam dunia yang luas dan nampak asing ini.

Monster berkepala dua ini gue analogikan dengan dua kondisi kepala sang monster. Kondisi pertama yaitu kondisi dimana salah satu kepala sang monster yang menghadap ke belakang. Kondisi ini merupakan keinginan kita yang masih ingin berada di posisi lampau. Posisi kanak-kanak dahulu. Posisi saat yang ada dipikiran adalah kesenangan belaka. Posisi ketergantungan terhadap orang lain. Sedangkan salah satu kondisi lainnya yaitu kepala sang monster yang menghadap ke depan. Kondisi ini menggambarkan keinginan untuk menuju ke depan. Keinginan untuk mencoba hal baru. Keinginan untuk berkembang. Kesiapan untuk mengatasi permasalahan.

Dalam perjalanannya, sang monster berkepala dua ini tidak selalu selaras dalam memandang. Terkadang salah satu kepalanya memandang kebelakang. Sedangkan yang satunya menghadap kedepan. Pergerakannya pasti terhambat. Sang monster bisa saja terdiam kebingungan. Pandangan mana yang harus ia ikuti. Atau ia hanya dia ditempat saja.

Sang monster haruslah bisa menyelaraskan kedua kepalanya. Memiliki pandangan yang sama. Sang monster haruslah tepat dalam memutuskan. Semua itu agar tidak menghambat perjalanannya. Sang monster memang memiliki dua kepala. Namun bukan berarti hal itu memberatkannya. Dia hanya perlu terus bergerak dengan segala keputusan yang tepat dan selaras. Karna sang monster punya kaki, tangan bahkan sayap yang menyokongnya. Begitu juga monster-monster lainnya yang akan terus mendukungnya. Jadi, terus berjalanlah kau monster berkepala dua!!!


-monster berkepala dua strike-

Menemukan teman yang pas itu pastilah jarang. Apalagi dalam ruang lingkup perkuliahan yang lebih luas dibandingkan dengan jaman sekolahan d...

Obrolan Selingan

Menemukan teman yang pas itu pastilah jarang. Apalagi dalam ruang lingkup perkuliahan yang lebih luas dibandingkan dengan jaman sekolahan dahulu. Menemukan orang yang sepemikiran atau satu perilaku dengan kita itu seperti nemu duit di jalan, gak sengaja. Gak sengaja dan beruntung.

Yap, segalanya emang terlihat tidak sengaja. Tidak sengaja kita memilih untuk duduk di belakang. Tidak sengaja masuk dalam kelas yang sama. Tidak sengaja masuk dalam kelompok yang sama. Atau ketidak sengajaan lainnya. Segalanya memang terlihat tidak sengaja, namun memang begitulah kenyataannya. Kenyataan bagaimana sebuah kelompok pertemanan dimulai. Dimulai dari ketidak sengajaan.

Masuk perkuliahan awal itu adalah masa-masa dimana biasanya kita mencari jalinan pertemanan yang baru. Mulai dari teman kamar, teman yang bertemu saat makan, teman yang bertemu saat nonton pertandingan sepak bola, teman yang bertemu saat lari pagi, dan yang bertemu secara ajaib lainnya. Gue inget dulu saat pertama kali masuk kuliah. Dimanapun berada, di acara ospek ataupun masuk kelas awal, pasti dimulailah masa perkenalan. Mulai dari perkenalan nama hingga obrolan-obrolan kecil yang tidak sengaja menarik perhatian. Terkadang perkenalan itu terlihat seperti basa-basi saja. Seperti saat berkenalan dan kitau tau masing-masing nama, trus yaudah. Mungkin saat tidak sengaja bertemu di jalan nantinya salah satu diantara kita ada yang lupa.

Memang ada bagian dimana sebuah perkenalan itu hanya menjadi basa basi saja. Seakan sebuah perkenaalan itu hanya formalitas awal saja. Namun orang yang lupa setelah perkenalan itu tidak bisa begitu saja disalahkan. Ada kemungkinan-kemungkinan yang membuat seseorang tidak mudah ingat. Contohnya adalah kesan perkenalan pertama yang biasa saja, seseorang yang diajak berkenalan itu pendiam atau jarang terlihat, nama seseorang tersebut ribet atau apalah yang mengganggu ingatan orang itu. Akibatnya adalah terjadinya akward momen ketika sedang berpapasan dijalan. Lu hanya bisa mikir-mikir sambil mengingat itu siapa atau lu malah senyum-senyum gak jelas karna gak tau namanya.

Yah, perkenalan bagi hanya awal untuk mengetahui orang tersebut. Namun untuk mendapat teman yang pas itu adalah dengan melihat perilakunya seperti apa setelah terjadinya perkenalan awal tersebut. Perkenalan awal kadang tidak dapat menunjukkan gimana aslinya seseorang tersebut. Lu kayak harus sering bersama dengan mereka. Seperti lu jalan-jalan bareng, olahraga bareng, makan bareng, dan kegiatan-kegiatan lainnya bareng. Lu jadi tau karateristik orang tersebut. Lu jadi bisa nilai, apakah diri kita dan mereka itu pas.

Gue sempat menemukan mereka, kelompok-kelompok kecil gue. Kelompok kecil yang tidak sengaja terbentuk. Kelompok kecil yang entah kapan terbentuknya. Kelompok-kelompok kecil yang gue temukan di saat SMP, SMA maupun saat kuliah. Yang sering menjadi pertanyaan yaitu, “sejak kapan ya kita ngumpul-ngumpul gini?”

Salah satu pertanyaan tersebut pernah dilontarkan oleh salah satu teman gue. Saat itu gue sedang mengunjungi rumahnya di Jakarta timur. Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Tak satu pun dari kita yang tau sejak kapan kita mulai kumpul seperti ini. Yah, seperti yang gue bilang sebelumnya, tidak sengaja. Kita tidak sengaja mengerjakan hal yang sama. Kita tidak sengaja menyukai permainan yang sama. Ketidak sengajaan itu yang membuat kita berkumpul.

Kita berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Kita berada dalam asrama yang berbeda. Namun ditempatkan di kelas yang sama. Dari mereka, gue jadi tau gimana caranya bermain dota. Jadinya gue gak terlalu cupu saat pulang ke kampong halaman (ini yang aneh). Dari mereka, gue jadi belajar gimana cara meningkatkan kepercayaan diri. Dari mereka gue jadi tau macam-macam kenistaan para jomblo, haha…

Dulu kita sering bersama karna ditempatkan di kelas yang sama selama satu tahun. Di kampus gue ada kewajiban untuk belajar mata kuliah dasar selama setahun. Jadi apapun jurusan yang dipilih oleh setiap mahasiswa, mereka akan mendapatkan materi-materi dasar tersebut. Itulah mengapa walaupun kita berbeda jurusan, namun berada di kelas yang sama. Sekarang kita sudah masuk ke jurusan masing-masing. Terpisah dan jarang bertemu.

Hari ini gue gak sengaja bertemu dengan salah satu dari mereka. Orang yang paling heboh diantara yang lain. Orang nyentrik yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Orang yang blak-blakan kalo ngomong. Gue gak sengaja bertemu dia dalam perjalanan gue di kampus. Dia sedang makan nasi kotak yang didapatkannya secara cuma-cuma. Gue jadi iri (lha??). Gue seperti menemukan kucing yang lagi kelaparan sedang menggerogoti makanan di pinggir jalan. Gue pun menegurnya.

Memang tidak jarang kita bertemu. Kita masih sering berpapasan. Atau bertemu di media maya, jejaring sosial. Namun ternyata ada perubahan antara gue dan dia. Kini status dia telah berubah. Dia sudah tidak sendiri lagi. Dia sudah berpasangan. Gue masih belum (kode keras). Gue jadi inget dahulu gimana kita membuat list wanita-wanita kelas yang menjadi target masing-masing. Gimana kita memiliki cara masing-masing dalam menarik perhatian sang wanita pujaan. Gimana banyak hal absurd yang kita lakukan dalam menarik perhatian atau semacamnya. Gimana kegagalan yang kita dapati.

Kini dia sudah mempunyai pasangan. Obrolan pertama yang muncul adalah tentang bagaimana dirinya yang berhasil mendapatkan sang pujaan hati. Gimana dia yang secara tidak sengaja atau nekat memberanikan diri untuk menyatakan perasaan. Kemudian obrolan tersebut mengalir saja hingga menuju gimana tentang gue. Tentang gue yang masih berjalan sendiri. Tentang gimana usaha gue. Atau hal lainnya yang pernah kita tulisakan dalam resolusi masa depan.


Obrolan tersebut membuat gue sedikit berfikir. Gue masih menikmati masa gue yang sekarang. Gue masih bisa ngumpul-ngumpul bareng temen. Main rame-rame. Atau melakukan hal aneh lainnya tanpa ikatan. Rasanya masih ingin menikmati kehidupan ini. Obrolan tersebut memang bukan berakhir membahas tentang masalah gue. Namunn obrolan itu membuat gue sedikit berfikir. Bagaimana kalo gue mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih dalam.
Powered by Blogger.

Pages